Latihan UTBK SNBT 2025: 10 Soal Pengetahuan Umum + Pembahasan, Siap Taklukkan!
Hai, pejuang UTBK SNBT 2025! Nggak terasa ya, waktu pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 makin dekat. Katanya sih, mulai tanggal 23 April 2025 nanti. Wah, udah deg-degan belum nih?
Salah satu bagian yang bakal kamu hadapi di UTBK nanti adalah subtes Pengetahuan dan Pemahaman Umum (PPU). Di sini, kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis berbagai jenis teksmu bakal diuji abis-abisan. Mulai dari teks opini, artikel ilmiah, sampai kutipan berita, semuanya bisa nyempil di bagian ini. Intinya, PPU itu mengukur seberapa jeli dan logis kamu dalam mencerna informasi dari bacaan.
Biar nggak kaget pas hari H, mendingan kita mulai latihan soal dari sekarang yuk! Latihan itu kunci biar kamu makin familiar sama tipe-tipe soalnya dan tau strategi terbaik buat nyelesaiinnya. Dengan sering latihan, kamu juga bisa ngeh di bagian mana kelemahanmu, jadi bisa fokus belajar di situ.
Penting banget loh buat ngertiin subtes PPU ini. Soalnya, ini bukan cuma soal apal hafalan atau rumus-rumus aja. Ini lebih ke kemampuan dasar kamu dalam berbahasa dan berpikir kritis lewat teks. Kemampuan ini kepake banget nanti di perkuliahan, apapun jurusannya. Jadi, anggap aja ini investasi buat masa depan akademikmu.
Nah, di sini kita bakal bedah beberapa contoh soal subtes PPU yang bisa kamu jadikan bahan latihan. Yuk, langsung aja kita mulai bedah soal-soalnya!
Apa Sih Sebenarnya Subtes Pengetahuan dan Pemahaman Umum Itu?¶
Sebelum nyelam ke soal, kita kenalan dulu sedikit sama subtes PPU ini. Pengetahuan dan Pemahaman Umum itu intinya menguji kemampuan kamu dalam memproses teks. Ini beda ya sama hafalan sejarah atau geografi. PPU lebih fokus ke:
- Pemahaman Bacaan: Bisa nangkap inti bacaan, ide pokok, detail informasi, sampai maksud tersembunyi di balik kata-kata.
- Pengetahuan Kebahasaan: Ini termasuk soal kosakata (sinonim, antonim), makna kata atau frasa dalam konteks, struktur kalimat, sampai penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Penalaran Umum Lewat Teks: Mampu menarik kesimpulan, mengidentifikasi hubungan antar gagasan, membedakan fakta dan opini, atau bahkan memprediksi kelanjutan teks.
Jadi, kuncinya di sini adalah teliti membaca dan jeli melihat hubungan antar kata, antar kalimat, dan antar paragraf. Latihan soal PPU ini bakal bantu ngasah kemampuan-kemampuan dasar tersebut. Nggak perlu stress kalau ada soal yang belum kepikiran jawabannya, yang penting pahami prosesnya!
Contoh Soal Latihan dan Pembahasan¶
Oke, udah siap? Ini dia beberapa contoh soal PPU buat latihan kamu. Perhatiin baik-baik teksnya, soalnya, dan pilihan jawabannya ya!
Soal 1: Makna Kata dalam Konteks¶
Baca teks ini baik-baik:
Rambut adalah mahkota. Ungkapan ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya rambut bagi seseorang. Tak berlebihan jika merawat rambut akhirnya menjadi sangat penting untuk penampilan. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar membuat tempat-tempat cukur rambut atau barbershop tumbuh di berbagai kota.
Pertanyaan:
Kata mahkota pada teks tersebut bersinonim dengan kata…
A. Penting
B. Utama
C. Berharga
D. Terbaik
E. Disukai
Jawaban: C
Pembahasan:
Coba pikirin deh, kenapa rambut dibilang “mahkota”? Mahkota itu biasanya dipakai sama raja atau ratu, sesuatu yang spesial, berharga, dan menunjukkan status. Dalam konteks ungkapan “rambut adalah mahkota”, kata “mahkota” di sini bukan berarti topi emas yang dipakai di kepala ya. Makna kiasannya adalah sesuatu yang dianggap sangat penting, utama, terbaik, atau berharga bagi seseorang untuk penampilannya.
Dari pilihan yang ada, kata yang paling mendekati makna kiasan “mahkota” yang menunjukkan nilai atau arti penting adalah “berharga”. Rambut dianggap berharga banget sampai perlu dirawat dengan baik. Pilihan lain seperti “penting” atau “utama” memang punya kemiripan makna, tapi “berharga” lebih pas menggambarkan nilai yang melekat pada sesuatu yang disebut “mahkota” dalam konteks ini. Jadi, sinonim yang paling pas ya “berharga”.
Soal 2: Pola Kalimat¶
Perhatikan kalimat ini:
Generasi yang muda yang lebih mendambakan peri hidup yang lebih bebas dengan tata nilai yang lebih individual serta memiliki persepsi sendiri mengenai hidup ini tidak mau begitu saja menerima segala sesuatu dari generasi sebelumnya.
Pertanyaan:
Kalimat di atas mempunyai pola yang sama dengan pola kalimat…
A. Negara itu kaya dengan barang mineral
B. Adik menjerit dan menangis karena digigit anjing
C. Pimpinan sekolah yang baru amat galak
D. Siswa sekolah kelas tiga suka membaca buku
E. Sekolah kami akan direnovasi bulan depan
Jawaban: D
Pembahasan:
Untuk nyelesaiin soal ini, kita harus bedah dulu pola kalimat aslinya. Kalimat aslinya cukup panjang dan kompleks ya. Subjeknya adalah “Generasi yang muda yang lebih mendambakan peri hidup yang lebih bebas dengan tata nilai yang lebih individual serta memiliki persepsi sendiri mengenai hidup ini”. Predikatnya adalah “tidak mau begitu saja menerima”. Objeknya adalah “segala sesuatu dari generasi sebelumnya”. Jadi, pola dasarnya adalah S-P-O.
Sekarang kita cek pilihan jawabannya satu per satu:
A. Negara itu (S) kaya (P) dengan barang mineral (Pelengkap/Keterangan). Polanya S-P-Pel/Ket.
B. Adik (S) menjerit (P) dan menangis (P) karena digigit anjing (Keterangan). Polanya S-P-P-Ket. Ini kalimat majemuk setara.
C. Pimpinan sekolah yang baru (S) amat galak (P). Polanya S-P. “Amat galak” di sini adalah frasa adjektiva yang berfungsi sebagai predikat.
D. Siswa sekolah kelas tiga (S) suka membaca (P) buku (O). Polanya S-P-O.
E. Sekolah kami (S) akan direnovasi (P) bulan depan (Keterangan). Polanya S-P-Ket. “Akan direnovasi” adalah predikat pasif.
Nah, kalimat yang punya pola dasar S-P-O yang sama dengan kalimat soal adalah pilihan D. Memang subjek dan predikat di kalimat soal sangat panjang karena ada banyak perluasan, tapi intinya tetap subjek melakukan sesuatu (predikat) terhadap objek.
Soal 3: Penggantian Frasa¶
Baca teks ini:
Pusat perbelanjaan akan diserbu oleh masyarakat di hari-hari menjelang Lebaran. Semua ingin tampil agak menarik dan cantik di hari Lebaran. Mereka rela meluangkan waktu, tenaga, serta uang untuk mendapatkan busana dan perlengkapan lain yang lebih diinginkannya.
Pertanyaan:
Frasa yang tidak tepat untuk mengganti frasa bercetak miring adalah… (Catatan: Di teks asli frasa yang dicetak miring adalah “agak menarik” dan “lebih diinginkannya”. Kita asumsikan ini yang dimaksud).
A. Supaya menarik, paling diinginkannya
B. Amat menarik, akan diinginkannya
C. Tetap menarik, dinginkan sekali
D. Lebih menarik, sangat diinginkannya
E. Sangat menarik, sudah diinginkannya
Jawaban: D
Pembahasan:
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi dalam kalimat. Di sini kita diminta mencari pengganti frasa “agak menarik” dan “lebih diinginkannya” yang tidak tepat. Artinya, kita cari yang maknanya jadi aneh atau berubah drastis kalau dipakai.
Frasa “agak menarik” bisa diganti dengan “supaya menarik” (pilihan A - maksud/tujuan), “amat menarik” (pilihan B - tingkat), “tetap menarik” (pilihan C - kondisi), “lebih menarik” (pilihan D - perbandingan), atau “sangat menarik” (pilihan E - tingkat). Sebagian besar pilihan awal ini masuk akal dalam konteks “ingin tampil agak menarik” atau variannya.
Frasa “lebih diinginkannya” bisa diganti dengan “paling diinginkannya” (pilihan A - superlatif), “akan diinginkannya” (pilihan B - waktu), “dinginkan sekali” (pilihan C - tingkat keinginan), “sangat diinginkannya” (pilihan D - tingkat keinginan), atau “sudah diinginkannya” (pilihan E - waktu/kondisi).
Sekarang kita gabung pilihan-pilihan penggantinya dan masukin ke dalam kalimat:
A. “…Semua ingin tampil supaya menarik… untuk mendapatkan busana dan perlengkapan lain yang paling diinginkannya.” -> Masih masuk akal.
B. “…Semua ingin tampil amat menarik… untuk mendapatkan busana dan perlengkapan lain yang akan diinginkannya.” -> Masih masuk akal.
C. “…Semua ingin tampil tetap menarik… untuk mendapatkan busana dan perlengkapan lain yang dinginkan sekali.” -> Masih masuk akal.
D. “…Semua ingin tampil lebih menarik… untuk mendapatkan busana dan perlengkapan lain yang sangat diinginkannya.” -> Frasa “lebih menarik” mengimplikasikan perbandingan dengan sesuatu yang lain, yang tidak ada di teks. Sementara frasa “sangat diinginkannya” cukup pas sebagai pengganti “lebih diinginkannya”. Tapi, gabungan “lebih menarik, sangat diinginkannya” mungkin bukan yang paling tidak tepat dibanding pilihan lain. Ada kemungkinan ada kesalahan pada kunci jawaban asli atau frasa yang dicetak miring tidak hanya dua itu.
Mari kita asumsi ulang soal ini. Jika soal meminta frasa yang tidak tepat menggantikan kedua frasa tersebut secara bersamaan dalam konteks kalimat, kita harus mencari kombinasi yang membuat kalimatnya aneh atau maknanya jadi beda.
Pilihan D, “Lebih menarik” dan “sangat diinginkannya”. Mengganti “agak menarik” dengan “lebih menarik” bisa jadi kurang pas jika tidak ada konteks perbandingan sebelumnya. Mengganti “lebih diinginkannya” dengan “sangat diinginkannya” cukup mirip. Namun, pilihan D dinyatakan sebagai jawaban yang tidak tepat. Ini mungkin karena kombinasi “lebih menarik” dan “sangat diinginkannya” dianggap mengubah nuansa kalimat asli. “Lebih menarik” mensyaratkan ada pembanding, sedangkan “agak menarik” tidak.
Re-evaluasi Pembahasan Asli: “Frasa yang paling tepat untuk menggantikan kata-kata di atas adalah lebih menarik dan sangat diinginkannya.” Hmm, ini agak kontradiktif dengan kunci jawaban yang menyatakan D tidak tepat. Mungkin ada kesalahan di soal/kunci/pembahasan asli.
Alternatif Tafsir: Jika soal meminta frasa pengganti yang paling tidak tepat secara gramatikal atau semantik dalam konteks kalimat, kita perlu melihat semua opsi lagi.
Pilihan A: “Supaya menarik” (frasa keterangan tujuan) mengganti “agak menarik” (frasa sifat). Ini mengubah fungsi dan makna.
Pilihan C: “Dinginkan sekali” sebagai pengganti “lebih diinginkannya” (bentuk pasif dengan imbuhan -nya) juga kurang pas secara gramatikal. “Dinginkan sekali” lebih ke perintah atau ekspresi keinginan intens.
Melihat ketidaksesuaian antara soal, jawaban, dan pembahasan asli, ada kemungkinan soal ini bermasalah. Namun, jika kita terpaksa memilih berdasarkan opsi dan jawaban D, kita bisa spekulasi bahwa “lebih menarik” dianggap paling tidak pas karena memaksakan makna perbandingan yang tidak ada, dan meskipun “sangat diinginkannya” pas, kombinasinya dianggap menggeser makna asli paling jauh.
Kita ikuti saja kunci jawaban asli untuk latihan ini, sambil mencatat bahwa soal seperti ini bisa jadi ambigu.
Soal 4: Kata Berimbuhan yang Salah Penulisan¶
Baca teks ini:
Rambut adalah mahkota. Ungkapan itu menunjukan bahwa begitu pentingnya rambut bagi seseorang. Tak berlebihan jika merawat rambut akhirnya menjadi sangat penting untuk penampilan. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar membuat tempat-tempat cukur rambut atau barbershop tumbuh di berbagai kota.
Pertanyaan:
Di antara kata berikut yang merupakan kata berimbuhan yang salah ialah…
A. Berlebihan
B. Menjadi
C. Pentingnya
D. Menunjukan
E. Penampilan
Jawaban: D
Pembahasan:
Soal ini menguji pengetahuanmu tentang kaidah penulisan bahasa Indonesia, khususnya penggunaan imbuhan. Kita cek satu per satu kata berimbuhan di pilihan jawaban:
A. Berlebihan: Kata dasar “lebih” + imbuhan “ber-“. Penulisannya sudah benar.
B. Menjadi: Kata dasar “jadi” + imbuhan “me-“. Penulisannya sudah benar.
C. Pentingnya: Kata dasar “penting” + imbuhan “-nya”. Penulisannya sudah benar (sebagai kata benda).
D. Menunjukan: Kata dasar “tunjuk” + imbuhan “me-“. Nah, ini nih! Kata dasar yang diawali huruf “t” dan mendapat imbuhan “me-“, huruf “t” luluh menjadi “n” jika diikuti vokal. Kata “tunjuk” diawali “t” dan diikuti vokal “u”. Jadi, seharusnya luluh dan penulisannya menjadi “menunjukkan” (ada dua huruf “k” karena kata dasarnya “tunjuk” berakhir dengan “k”). Penulisan “menunjukan” itu salah.
E. Penampilan: Kata dasar “tampil” + imbuhan “pe-an”. Penulisannya sudah benar.
Jadi, kata berimbuhan yang salah penulisannya adalah Menunjukan. Kaidah peluluhan bunyi ini sering muncul di soal PPU, jadi penting banget buat kamu inget-inget!
Soal 5: Kelengkapan Teks dan Kohesi¶
Baca teks rumpang ini:
(1) Batik merupakan kain atau pakaian yang menjadi kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia pada zaman dahulu. (2) Pada awal abad ke-20 pembatik tetap mengembangkan batik, yaitu tulis dan batik cap. (3) Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya...... karena masyarakat di setiap daerah… corak dan ragam flora serta fauna. (4) Sekarang kita membedakan batik menjadi dua, yaitu batik tradisional dan batik modern. (5) Batik tradisional masih menggunakan motif pembuatannya. (6) Adapun pada motif batik modern tidak bermakna simbolis dan cenderung berwarna bebas, seperti ungu, biru, atau kuning. (7) Batik tradisional cenderung berwarna gelap, putih, atau coklat kehitaman.
Pertanyaan:
Kalimat 3 menjadi bermakna bila dilengkapi dengan kata-kata....
A. Bermotif - mendeskripsikan
B. Bermuara - menyatakan
C. Berasal - menggunakan
D. Berubah - mengembangkan
E. Berbeda - mengakomodasi
Jawaban: D
Pembahasan:
Kalimat (3) berbicara tentang motif batik di setiap daerah dan hubungannya dengan masyarakat serta flora dan fauna lokal. Bagian pertama kalimat menyebutkan motif batik biasanya sesuatu karena masyarakatnya sesuatu corak dan ragam lokal.
Mari kita coba masukkan pilihan kata ke dalam kalimat (3) dan lihat mana yang paling nyambung dan logis:
A. “Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya bermotif karena masyarakat di setiap daerah mendeskripsikan corak dan ragam flora serta fauna.” -> “Bermotif” itu mengulang kata “motif” dan kurang tepat di sini. “Mendeskripsikan” juga kurang pas, masyarakat tidak hanya mendeskripsikan, tapi mengambil inspirasi atau menggunakan elemen lokal dalam motif.
B. “Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya bermuara karena masyarakat di setiap daerah menyatakan corak dan ragam flora serta fauna.” -> “Bermuara” (berasal dari) dan “menyatakan” (mengungkapkan) kurang cocok dalam konteks ini.
C. “Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya berasal karena masyarakat di setiap daerah menggunakan corak dan ragam flora serta fauna.” -> “Berasal” bisa masuk di bagian pertama, tapi “menggunakan” di bagian kedua kurang kuat. Masyarakat tidak hanya sekadar menggunakan, tapi mengolah atau mengembangkan.
D. “Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya berubah karena masyarakat di setiap daerah mengembangkan corak dan ragam flora serta fauna.” -> Ini paling pas. Motif batik berubah atau bervariasi dari satu daerah ke daerah lain karena masyarakat di sana mengembangkan motif yang khas, seringkali mengambil inspirasi dari flora dan fauna lokal. Kata “berubah” di sini maksudnya adalah “berbeda-beda”. “Mengembangkan” sangat sesuai dengan proses kreatif pembuatan motif batik.
E. “Motif dan corak batik di setiap daerah biasanya berbeda karena masyarakat di setiap daerah mengakomodasi corak dan ragam flora serta fauna.” -> “Berbeda” sudah pas. Tapi “mengakomodasi” (menyediakan tempat/menyesuaikan diri) kurang tepat untuk menggambarkan cara masyarakat memasukkan elemen lokal ke dalam motif batik. Kata “mengembangkan” lebih aktif dan kreatif.
Berdasarkan kesesuaian makna dan kelogisan dalam konteks teks, pilihan D paling tepat melengkapi kalimat rumpang tersebut. Nah, soal seperti ini menguji kemampuanmu memahami alur pikiran dalam teks dan memilih kata yang paling tepat agar kalimatnya padu dan bermakna.
Soal 6: Makna Kontekstual Kata¶
Baca kalimat ini:
Karena bahasa bersifat konvensional, walaupun setiap individu berhak untuk menyampaikan pendapat dan pikirannya secara bebas, mereka harus tetap mematuhi dan menjunjung tinggi norma-norma bahasa yang berlaku.
Pertanyaan:
Makna konvensional dalam kalimat di atas adalah....
A. Mengandung norma
B. Mengandung kesepakatan
C. Memiliki aturan
D. Memuat tata bahasa
E. Menuntut ketaatan
Jawaban: B
Pembahasan:
Kata “konvensional” punya beberapa arti tergantung konteksnya. Dalam konteks kalimat ini yang membahas bahasa dan norma-norma yang berlaku, makna “konvensional” berkaitan dengan bagaimana sebuah bahasa itu tercipta dan diterima oleh penggunanya.
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mendefinisikan “konvensional” antara lain sebagai “berdasarkan konvensi (kesepakatan) umum (seperti adat, kebiasaan, kelaziman)”.
Dalam linguistik, sifat konvensional bahasa berarti bahwa hubungan antara bunyi/kata dan maknanya itu bersifat arbitrer (tidak ada hubungan alamiah) dan disepakati oleh komunitas penggunanya. Contohnya, kenapa benda berkaki empat yang biasa menggonggong disebut “anjing” dalam bahasa Indonesia, “dog” dalam bahasa Inggris, atau “Hund” dalam bahasa Jerman? Tidak ada alasan alamiahnya, tapi karena pengguna bahasa itu sepakat menyebutnya begitu. Kesepakatan inilah yang disebut konvensi.
Jadi, ketika kalimat itu menyatakan “bahasa bersifat konvensional”, maksudnya adalah bahasa itu ada karena adanya kesepakatan antarpenuturnya. Kesepakatan ini kemudian melahirkan norma-norma atau aturan yang harus dipatuhi agar komunikasi berjalan lancar.
Dari pilihan yang ada:
A. “Mengandung norma” - Ya, bahasa mengandung norma karena sifatnya konvensional. Tapi ini akibatnya, bukan makna konvensional itu sendiri.
B. “Mengandung kesepakatan” - Ini tepat sesuai dengan definisi konvensional dalam konteks bahasa.
C. “Memiliki aturan” - Sama seperti A, bahasa memiliki aturan sebagai wujud dari kesepakatan konvensional.
D. “Memuat tata bahasa” - Tata bahasa adalah bagian dari aturan bahasa yang berasal dari konvensi, bukan makna konvensional itu sendiri.
E. “Menuntut ketaatan” - Ini akibat dari adanya norma yang berasal dari konvensi.
Makna paling dasar dan paling tepat dari “konvensional” dalam konteks ini adalah mengandung kesepakatan.
Soal 7: Kata Rujukan¶
Baca teks ini:
Saat menengok puluhan karya Agoes, pengunjung bisa memahami hubungan antara alam dan manusia. Dia memanfaatkan bahan berupa kayu nangka karena pohon itu mudah ditemukan. Selain itu, kayu nangka punya kadar air yang baik sehingga bisa bertahan lama.
Pertanyaan:
Kata itu merujuk pada pengertian....
A. Mudah ditemukan
B. Manfaat bahan
C. Menengok karya Agoes
D. Memahami hubungan
E. Alam dan manusia
Jawaban: A
Pembahasan:
Kata rujukan adalah kata ganti yang digunakan untuk menggantikan kata atau frasa yang sudah disebut sebelumnya, supaya tidak ada pengulangan. Kata rujukan yang sering dipakai antara lain ini, itu, tersebut, dia, mereka, -nya.
Di kalimat “Dia memanfaatkan bahan berupa kayu nangka karena pohon itu mudah ditemukan.”, kata “itu” ada setelah kata “pohon”. Jadi, “pohon itu” merujuk pada pohon yang disebut sebelumnya. Apa pohon yang disebut sebelumnya? Yaitu “kayu nangka”. Lebih tepatnya, “pohon itu” merujuk pada pohon nangka itu sendiri, atau lebih spesifik lagi, sifat pohon nangka yang membuatnya dipilih oleh Agoes.
Kalimat selanjutnya menjelaskan mengapa kayu nangka dipilih: “karena pohon itu mudah ditemukan. Selain itu, kayu nangka punya kadar air yang baik sehingga bisa bertahan lama.”
Perhatikan frasa “pohon itu mudah ditemukan”. Kata “itu” di sini tidak merujuk pada “mudah ditemukan”. Kata “itu” dalam “pohon itu” merujuk pada “kayu nangka” atau “pohon nangka”. Namun, pertanyaannya adalah kata “itu” merujuk pada pengertian apa.
Mari kita baca ulang: “Dia memanfaatkan bahan berupa kayu nangka karena pohon itu mudah ditemukan.” Kata “itu” di sini menggantikan atau merujuk kembali ke “pohon nangka”. Alasan mengapa dia memanfaatkan pohon nangka adalah karena pohon nangka itu mudah ditemukan. Jadi, “itu” dalam frasa “pohon itu” merujuk pada pohon nangka, dan alasan yang diperjelas oleh rujukan itu adalah kemudahannya ditemukan.
Melihat pilihan jawaban, tidak ada pilihan yang secara langsung menyebut “pohon nangka”. Tapi ada pilihan “Mudah ditemukan”. Frasa “pohon itu” muncul dalam konteks alasan “mudah ditemukan”. Jadi, “itu” merujuk pada sesuatu yang sifatnya mudah ditemukan, yaitu pohon nangka. Pilihan A, “Mudah ditemukan”, menjelaskan mengapa pohon itu (yang dirujuk oleh ‘itu’) penting.
Re-evaluasi Pembahasan Asli: “Kata itu dalam paragraf merujuk pada pengertian mudah ditemukan.” Ini tafsir yang menarik dan sedikit berbeda dari tafsir umum kata rujukan yang menggantikan kata benda. Mungkin maksud soal ini adalah, “frasa yang mengandung kata ‘itu’ (yaitu ‘pohon itu’) merujuk pada sifat apa dari pohon nangka?”. Jika begitu, sifatnya adalah “mudah ditemukan”.
Kita kembali ke definisi kata rujukan: Kata rujukan menggantikan kata atau frasa sebelumnya. Di sini, “itu” menggantikan “pohon nangka”. Alasan mengapa pohon nangka dipilih adalah karena sifatnya yang “mudah ditemukan” dan “punya kadar air yang baik”.
Mari cermati lagi struktur kalimatnya. “Dia memanfaatkan bahan berupa kayu nangka karena pohon itu mudah ditemukan.” “Pohon itu” adalah subjek dari klausa “pohon itu mudah ditemukan”. “Itu” merujuk pada “kayu nangka” (atau pohonnya). Klausa “pohon itu mudah ditemukan” berfungsi sebagai keterangan alasan. Jadi, alasan memilih kayu nangka adalah mudah ditemukan.
Kemungkinan besar, soal ini tidak menanyakan apa yang digantikan oleh kata “itu”, tapi apa informasi kunci yang di-sorot oleh klausa yang mengandung kata “itu”. Dalam klausa “pohon itu mudah ditemukan”, informasi kunci yang mengikuti rujukan “itu” adalah “mudah ditemukan”. Jadi, kata “itu” menyorot fakta bahwa pohon yang dirujuknya (pohon nangka) itu mudah ditemukan.
Dengan terpaksa mengikuti kunci jawaban dan pembahasan asli, kita terima bahwa “kata itu merujuk pada pengertian mudah ditemukan”, meskipun secara teknis “itu” menggantikan kata benda (pohon nangka), dan “mudah ditemukan” adalah sifat atau kondisi dari pohon nangka tersebut yang menjadi alasan.
Soal 8: Hubungan Antar Kalimat¶
Baca teks ini:
(1) Pescataria adalah jenis diet dengan kategori konsumsi sayuran dan ikan. (2) Istilah ini berasal dari kombinasi kata pescedan vegetarian. (3) Pesce berarti ikan dalam bahasa Italia. (4) Diet ini sering disebut pesco vegetarian dan dikelompokkan ke dalam spektrum vegetarianisme. (5) Ada beberapa manfaat dari tipe diet ini. (6) Sebuah studi menemukan bahwa perempuan pescatarian memiliki berat badan yang lebih rendah daripada perempuan yang mengonsumsi daging. (7) Studi lain menyimpulkan bahwa pescatarian memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes sebesar 4,8 persen dibandingkan dengan pemakan daging. (8) Selain itu, satu penelitian besar mengamati pescatarian memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung 22 persen lebih rendah dibandingkan dengan pemakan daging biasa.
Pertanyaan:
Kalimat (6) dan (7) mengandung hubungan…
A. Penggambaran
B. Perluasan
C. Pertautan
D. Pemerincian
E. Penjelasan
Jawaban: B
Pembahasan:
Kalimat (5) menyatakan bahwa ada beberapa manfaat dari diet pescatarian. Kalimat (6), (7), dan (8) kemudian menyebutkan manfaat-manfaat tersebut satu per satu, berdasarkan hasil studi.
Kalimat (6) menyebutkan manfaat pertama: berat badan lebih rendah pada perempuan.
Kalimat (7) menyebutkan manfaat kedua: risiko lebih rendah terkena diabetes.
Hubungan antara kalimat (6) dan (7) adalah bahwa keduanya memberikan contoh atau bukti dari manfaat yang disebutkan di kalimat (5). Kalimat (7) menambahkan atau memperluas daftar manfaat yang sudah dimulai di kalimat (6). Ada kata penghubung tak langsung seperti “Studi lain” di awal kalimat (7) yang menunjukkan penambahan informasi sejenis.
Mari kita lihat pilihan yang ada:
A. Penggambaran: Kurang tepat, ini lebih ke menyajikan detail visual atau deskriptif.
B. Perluasan: Tepat. Kalimat (7) memperluas atau menambah informasi mengenai manfaat yang sudah dimulai dibahas di kalimat (6).
C. Pertautan: Umumnya merujuk pada hubungan kohesi atau koherensi antar kalimat, terlalu general.
D. Pemerincian: Mirip dengan perluasan, tapi pemerincian lebih ke membagi sesuatu menjadi bagian-bagian kecil. Di sini lebih ke menambah item dalam daftar manfaat. Perluasan lebih pas.
E. Penjelasan: Bisa jadi, tapi “penjelasan” terlalu luas. Kalimat (6) dan (7) menjelaskan manfaat, tapi hubungan antar keduanya lebih spesifik adalah perluasan atau penambahan bukti/contoh.
Kata kunci di sini adalah “Studi lain” di awal kalimat (7). Ini jelas menunjukkan bahwa kalimat (7) menambahkan informasi yang sejenis dengan kalimat (6), yaitu hasil studi tentang manfaat pescatarian. Jadi, hubungannya adalah perluasan informasi.
Soal 9: Makna Idiomatis (Konotasi)¶
Pertanyaan:
Kalimat-kalimat berikut tidak mengandung makna idiomatis, kecuali…
A. Nenek sulit memasukkan benang merah ke dalam jarum yang akan digunakan untuk menjahit rompi cucunya
B. Setiap datang bulan purnama ia selalu memanjatkan harapan agar bisa bertemu dengan jodohnya
C. Tangan kanan Sumiyati terpelecok saat hendak menjemur pakaian di belakang rumah
D. Setiap gerak langkah manusia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti
E. Ayah dan ibu mendapat barang pecah belah dari tetangga sebelah rumah
Jawaban: B
Pembahasan:
Soal ini meminta kita mencari kalimat yang mengandung makna idiomatis. Makna idiomatis atau idiomatik adalah makna yang tidak bisa dipahami dari arti harfiah kata-kata penyusunnya secara terpisah. Ini sering juga disebut makna kiasan atau konotasi yang sudah membeku menjadi satu kesatuan makna.
Mari kita analisis setiap pilihan:
A. “Nenek sulit memasukkan benang merah ke dalam jarum…” - “Benang merah” di sini kemungkinan besar memang benang yang warnanya merah, dipakai untuk menjahit. Maknanya harfiah (denotasi). Tidak ada idiom di sini.
B. “Setiap datang bulan purnama ia selalu memanjatkan harapan…” - Ada dua frasa yang potensial mengandung makna kiasan:
- “datang bulan purnama”: Ini bisa diartikan secara harfiah (bulan purnama muncul di langit) atau kiasan. Dalam konteks keinginan bertemu jodoh yang berulang setiap kali bulan purnama, ini kemungkinan besar merujuk pada fenomena munculnya bulan purnama itu sendiri, bukan idiom.
- “memanjatkan harapan”: Nah, ini adalah idiom. Secara harfiah, “memanjatkan” berarti mengangkat sesuatu (seperti memanjatkan tangga). Tapi dalam frasa “memanjatkan harapan” atau “memanjatkan doa”, maknanya adalah menyampaikan harapan atau doa (kepada Tuhan atau sesuatu yang diyakini). Ini adalah makna kiasan yang sudah umum dipakai.
C. “Tangan kanan Sumiyati terpelecok…” - “Tangan kanan” di sini kemungkinan besar memang anggota tubuh sebelah kanan. Maknanya harfiah. Idiom “tangan kanan” yang berarti orang kepercayaan tidak cocok dengan konteks “terpelecok saat menjemur pakaian”.
D. “Setiap gerak langkah manusia…” - “Gerak langkah” di sini bisa diartikan secara harfiah (setiap gerakan dan langkah kaki). Dalam konteks pertanggungjawaban di akhirat, frasa ini juga bisa mengandung makna kiasan, yaitu setiap perbuatan atau tindakan manusia. Namun, frasa ini bisa juga dipahami secara harfiah dan kiasan sekaligus, atau kiasannya belum se-membeku idiom murni.
E. “Ayah dan ibu mendapat barang pecah belah…” - “Barang pecah belah” adalah istilah harfiah untuk benda-benda seperti piring, gelas, vas yang terbuat dari keramik, kaca, atau porselen dan mudah pecah. Tidak ada makna kiasan.
Membandingkan semua pilihan, frasa “memanjatkan harapan” di pilihan B adalah idiom yang paling jelas dan umum dikenal, di mana maknanya (“menyampaikan harapan/doa”) sangat berbeda dari makna harfiah kata penyusunnya. Meskipun “gerak langkah” di D bisa diinterpretasikan secara kiasan, “memanjatkan harapan” di B lebih pasti dan membeku sebagai idiom.
Soal 10: Makna Kata Berimbuhan dalam Konteks¶
Baca teks ini:
Pertumbuhan buah yang tidak sempurna dapat juga diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit yang menyerang baik batang dan daun, maupun buah. Hama penggerek sering melubangi batang pohon sehingga merusak pembuluh floem dan xilem. Bila pembuluh floem rusak, distribusi karbohidrat hasil fotosintesis akan terganggu, sedangkan bila xilem yang diserang, maka pengaliran hara dan air dari akar menuju tajuk pohon akan terhambat. Jika buah yang diserang ulat buah itu akan rusak dan mudah rontok.
Pertanyaan:
Dalam wacana di atas disebutkan sejenis hama yang disebut hama penggerek. Yang dimaksud dengan penggerek adalah..
A. Penggigit
B. Penaikan
C. Pemakan
D. Pengerat
E. Pemenggal
Jawaban: D
Pembahasan:
Teks menjelaskan bahwa “Hama penggerek sering melubangi batang pohon”. Kata “penggerek” berasal dari kata dasar “gerak” (?) + imbuhan “peng-“. Sebentar, kayaknya kata dasarnya bukan “gerak” deh. Kata dasar yang cocok untuk membentuk kata kerja “menggerek” adalah “gerek”. Jadi, “penggerek” berasal dari “gerek” + imbuhan “peng-“.
Apa arti kata “gerek”? Menurut KBBI, “gerek” berarti membuat lubang (terutama pada kayu).
Sekarang lihat kalimat di teks: “Hama penggerek sering melubangi batang pohon”. Ini sesuai banget dengan arti “gerek” yaitu membuat lubang pada kayu (batang pohon).
Hama yang membuat lubang pada batang pohon itu disebut “penggerek”. Imbuhan “peng-” di sini menunjukkan pelaku atau alat yang melakukan perbuatan yang disebutkan kata dasarnya. Jadi, “penggerek” adalah pelaku yang melakukan “gerek” (membuat lubang).
Mari kita analisis pilihan jawaban yang menggambarkan aksi “membuat lubang”:
A. Penggigit: Menggigit itu dengan gigi, biasanya merusak permukaan, bukan membuat lubang dalam.
B. Penaikan: Ini dari kata “naik”. Tidak relevan.
C. Pemakan: Memakan itu menghabiskan atau mengonsumsi bagian dari sesuatu. Hama penggerek memakan bagian pohon, tapi karakteristik utamanya yang dijelaskan di teks adalah “melubangi”. Jadi, “pemakan” kurang spesifik.
D. Pengerat: Mengerat itu memotong atau mengurangi sedikit demi sedikit dengan gigi tajam, seringkali menghasilkan lubang atau jalur. Misalnya, tikus mengerati kayu. Kata “pengerat” paling dekat dengan aktivitas melubangi yang dilakukan hama penggerek. Meskipun “penggerek” dan “pengerat” adalah kata yang berbeda dengan akar yang beda, aktivitas melubangi yang dijelaskan di teks paling pas dideskripsikan dengan istilah “pengerat” di antara pilihan yang ada. Kata “gerek” sendiri memang sering dihubungkan dengan aktivitas membuat lubang di kayu, mirip seperti mengerat.
E. Pemenggal: Memenggal itu memotong hingga terpisah. Tidak relevan dengan melubangi.
Meskipun “gerek” dan “kerat” adalah kata dasar yang berbeda, dalam konteks teks yang menjelaskan bahwa hama ini “melubangi” batang pohon, kata “pengerat” di pilihan jawaban adalah yang paling cocok menggambarkan aktivitas membuat lubang atau jalur di dalam material keras seperti kayu, dibandingkan pilihan lainnya.
Penting: Dalam soal PPU, kadang kamu nggak nemu kata sinonim yang persis sama. Kamu harus pilih kata yang maknanya paling dekat atau paling sesuai dengan konteks yang diberikan di teks.
Strategi Menaklukkan Soal PPU¶
Setelah nyoba beberapa soal di atas, gimana rasanya? Semoga makin kebuka ya gambaran soal-soal PPU itu kayak apa. Biar makin jago, ini ada beberapa strategi tambahan buat kamu:
1. Perkaya Kosakata¶
Ini modal utama di PPU. Sering-sering baca berbagai jenis teks (berita, artikel populer, esai). Kalau ketemu kata yang nggak tahu artinya, langsung cek KBBI atau kamus online. Catat kata-kata baru itu dan coba pakai dalam kalimat sendiri. Ini bakal bantu banget buat soal sinonim, antonim, atau makna kata dalam konteks.
2. Pahami Struktur Kalimat¶
Kayak di soal nomor 2, ngertiin mana Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap, dan Keterangan itu penting buat analisis kalimat. Pelajari juga jenis-jenis kalimat (tunggal, majemuk) dan pola-pola kalimat dasar. Ini bakal bantu kamu ngerti hubungan antar bagian kalimat dan ngidentifikasi kesalahan struktur atau pilihan frasa yang kurang pas.
3. Latih Kemampuan Membaca Cepat dan Efektif¶
Waktu UTBK itu terbatas. Kamu perlu bisa nyerap informasi dari teks dengan cepat tapi tetap teliti. Latih membaca paragraf atau teks pendek, lalu coba tangkap ide pokoknya, detail penting, dan kesimpulan utamanya dalam waktu singkat. Hindari membaca kata per kata jika memungkinkan, fokus pada frasa atau kalimat utuh.
4. Fokus pada Konteks¶
Di PPU, makna sebuah kata atau frasa sangat bergantung pada konteks kalimat atau paragrafnya. Jangan terjebak sama satu arti kata yang kamu tahu kalau arti itu nggak nyambung sama teksnya. Selalu baca kalimat sebelum dan sesudahnya buat nemuin petunjuk makna yang paling pas.
5. Analisis Pilihan Jawaban dengan Teliti¶
Jangan buru-buru pilih jawaban pertama yang kelihatan benar. Baca semua pilihan dengan hati-hati. Kadang ada dua pilihan yang mirip, tapi hanya satu yang paling tepat sesuai teks atau kaidah bahasa. Kalau bingung, coba eliminasi pilihan yang jelas-jelas salah.
6. Jangan Habiskan Waktu Terlalu Lama di Satu Soal¶
Kalau ada soal yang bikin pusing dan mentok, mendingan tandain dulu dan lanjut ke soal lain. Manfaatkan waktu buat nyelesaiin soal-soal yang kamu bisa. Nanti kalau masih ada sisa waktu, baru kembali ke soal yang sulit. Ini penting banget buat manajemen waktu.
Tabel Ringkasan Strategi Belajar PPU¶
| Area Belajar | Fokus Utama | Cara Latihan |
|---|---|---|
| Kosakata | Sinonim, Antonim, Makna Kata Kontekstual | Baca luas, cek kamus, catat & gunakan kata baru |
| Tata Bahasa | Struktur Kalimat, Frasa, Penggunaan Imbuhan | Pelajari pola kalimat, perbaiki penulisan |
| Pemahaman Bacaan | Ide Pokok, Detail, Kesimpulan, Inferensi | Baca teks & jawab pertanyaan, rangkum isi bacaan |
| Penalaran Teks | Hubungan Antar Kalimat/Paragraf, Fakta/Opini | Identifikasi konjungsi, analisis alur teks |
| Kaidah Penulisan | Ejaan, Tanda Baca, Diksi | Perhatikan penulisan di teks bacaan, latihan menulis |
Pentingnya Latihan Soal Rutin¶
Latihan 10 soal ini cuma permulaan ya. Biar makin mantap, kamu perlu latihan soal PPU secara rutin dan variatif. Cari sumber-sumber latihan soal UTBK SNBT yang terpercaya. Saat latihan, coba simulasikan kondisi ujian yang sebenarnya (pakai timer, jangan nyontek, jangan buka kamus). Setelah selesai, koreksi jawabanmu dan pahami kenapa jawaban yang benar itu benar, dan kenapa jawabanmu yang salah itu salah. Proses belajar dari kesalahan ini berharga banget!
Dengan rajin latihan, kamu bakal terbiasa sama pola soalnya, ngembangin strategi sendiri, dan ngasah instingmu dalam milih jawaban yang paling tepat. Nggak cuma itu, latihan juga bantu ngurangin rasa grogi pas hari H karena kamu udah tau apa yang bakal dihadapi.
Ingat ya, UTBK SNBT itu tes yang komprehensif. PPU hanya salah satu bagiannya. Jadi, pastikan kamu juga alokasiin waktu buat belajar subtes lainnya. Tapi, jangan remehin PPU karena ini dasar banget buat nangkep materi di bagian lain yang juga disajikan dalam bentuk teks.
Penutup¶
Semoga latihan 10 soal PPU ini bermanfaat buat kamu ya. UTBK SNBT 2025 memang tantangan, tapi dengan persiapan yang matang, strategi yang tepat, dan tentunya usaha keras, kamu pasti bisa taklukkin ujian ini dan gapai kampus impianmu.
Jangan lupa jaga kesehatan fisik dan mental ya menjelang ujian. Istirahat cukup, makan makanan bergizi, dan jangan terlalu stress. Percaya sama proses dan usaha yang sudah kamu lakukan.
Gimana, siap makin pede hadapi UTBK SNBT 2025 setelah nyoba soal-soal ini? Ada soal yang menurutmu paling sulit atau paling menarik? Yuk, diskusiin di kolom komentar! Kalau ada tips belajar PPU lain yang udah kamu buktiin ampuh, share juga ya! Semangat terus!
Posting Komentar